Rabu, 27 Agustus 2014
Judul: Aduh, dadaku!
Sebagai bagian dari masyarakatnya, Yeremia
dipanggil untuk meneruskan pesan Tuhan bagi bangsanya. Namun, bencana
yang disingkapkan kepadanya begitu memilukan hatinya sampai-sampai ia
berseru, "Aduh, dadaku, dadaku!" (19). Sementara bagian terbesar
bangsanya hidup seolah tanpa masalah, nabi diberi ketajaman untuk
melihat panji perang (21) dan mendengar bunyi sangkakala dan deru
pasukan yang bertempur (21, 29). Betapa mengerikan! Semua ini bakal
terjadi karena kebodohan umat Tuhan: "anak-anak tolol" yang pintar
berbuat jahat (22)!
Bencana yang bakal menelan korban itu kerap digambarkan dalam
pemberitaan para nabi lainnya, apa yang terjadi dalam dunia manusia
disandingkan pula dengan kejadian-kejadian dahsyat di tata alam. Yeremia
menggunakan istilah tohuwabohu, istilah yang persis sama untuk
melukiskan bumi yang "belum berbentuk dan kosong" pada waktu penciptaan
(23; bdk. Kej 1:2).
Bumi yang kacau balau dan tak berpenghuni dibandingkan dengan keadaan
porak-poranda akibat perang (25).Gambaran mengenai gunung terguncang,
langit menggelap, dan kejadian alam yang serba kacau terkait datangnya
hari Tuhan, adalah hari penghukuman yang sangat menggentarkan manusia
Ibrani kuno (bdk. Yes 13:7-9; Yeh 30:1-4).
Luar biasanya, di antara kekacauan perang yang berkecamuk, bangsa yang
terancam itu masih sempat berdandan bagai perempuan sundal untuk menawan
pihak musuh (30). Namun, kali ini ia merintih kesakitan, binasa di
tangan musuhnya (31).
Betapa ironis! Umat yang menolak cinta sejati Tuhannya akhirnya
ditolak para pencintanya! Kehancuran bangsa yang menyia-nyiakan
kesempatan yang diberikan Tuhan menjadi peringatan bagi kita. Sebagai
umat yang ditempatkan Tuhan di negeri ini, kita wajib prihatin bila
kekacauan dan kejahatan menandai hidup sehari-hari, dengan
menumbuhkembangkan kecerdasan spiritual bangsa berdasarkan firman Tuhan. Jika tidak, akan semakin banyak orang yang pintar untuk berbuat jahat dan bodoh untuk berbuat baik (22). Aduh!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar