Selasa, 26 Agustus 2014

PEMILIK RESTORAN DAN SEORANG PEMUDA



Ada sebuah dongeng kuno dari Jepang, yang ceritanya begini: dulu ada seorang kikir yang memiliki sebuah restoran.  Biasa di Jepang rumah-rumah terdiri dari ruangan atas dan ruangan bawah.  Ruangan atas dipakai untuk tidur, sedang ruangan bawah dipakai untuk kegiatan sehari-hari lainnya.  Jadi restoran itu juga letaknya di bawah, sedang ruangan atas disewakan kepada pemuda-pemuda yang sedang belajar.

Ada seorang pemuda yang menyewa kamar persis di atas dapur restoran itu. Pemuda ini setiap kali hanya makan nasi putih saja.  Pemilik restoran itu melihat hal ini dan bertanya kepada si pemuda kenapa ia hanya makan nasi putih saja. “Karena setiap kali koki anda memasak, saya mulai mencium baunya yang sedap, sehingga saya dapat makan cukup dengan nasi putih saja,” jawab pemuda itu.  “Kalau begitu anda harus membayar kepada saya karena anda mencium bau masakan saya yang sedap,” desak pemilik restoran itu.  Si pemuda membantah, “Kan saya tidak memakannya, Pak.  Kenapa saya harus membayar?”  Pemilik restoran dan pemuda itu masing-masing mempertahankan pendapatnya sampai akhirnya mereka sepakat untuk menyerahkan masalah mereka ke pengadilan.  Pengadilan memutuskan bahwa pemuda ini wajib membayar 3 keping uang perak kepada pemilik restoran.  Pemuda ini memberontak karena merasa keputusan hakim itu tidak adil.  Tetapi kalau ia tidak mau membayar maka pengadilan akan memasukkannya ke dalam penjara.  Jadi pemuda itu terpaksa membayar 3 keping perak kepada pemilik restoran.  Si pemilik restoran merasa senang sekali dan cepat-cepat mau mengambil uang itu.  Tetapi sebelum ia mengambil uang itu, hakim meminta uang itu dan melemparkannya ke lantai.  Kemudian hakim bertanya, “Apakah engkau mendengar suara keping perak itu?”  Si pemilik mengiakan. “Kalan begitu impaslah sudah.  Si pemuda mencium bau masakanmu dan ia sudah membayarnya dengan bunyi uangnya,” kata hakim itu. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar