Ada
sebuah dongeng kuno dari Jepang, yang ceritanya begini: dulu ada seorang kikir
yang memiliki sebuah restoran. Biasa di Jepang rumah-rumah terdiri dari
ruangan atas dan ruangan bawah. Ruangan atas dipakai untuk tidur, sedang
ruangan bawah dipakai untuk kegiatan sehari-hari lainnya. Jadi restoran
itu juga letaknya di bawah, sedang ruangan atas disewakan kepada pemuda-pemuda
yang sedang belajar.
Ada
seorang pemuda yang menyewa kamar persis di atas dapur restoran itu. Pemuda ini
setiap kali hanya makan nasi putih saja.
Pemilik restoran itu melihat hal ini dan bertanya kepada si pemuda
kenapa ia hanya makan nasi putih saja. “Karena setiap kali koki anda memasak,
saya mulai mencium baunya yang sedap, sehingga saya dapat makan cukup dengan
nasi putih saja,” jawab pemuda itu.
“Kalau begitu anda harus membayar kepada saya karena anda mencium bau
masakan saya yang sedap,” desak pemilik restoran itu. Si pemuda membantah, “Kan saya tidak
memakannya, Pak. Kenapa saya harus
membayar?” Pemilik restoran dan pemuda
itu masing-masing mempertahankan pendapatnya sampai akhirnya mereka sepakat
untuk menyerahkan masalah mereka ke pengadilan.
Pengadilan memutuskan bahwa pemuda ini wajib membayar 3 keping uang
perak kepada pemilik restoran. Pemuda
ini memberontak karena merasa keputusan hakim itu tidak adil. Tetapi kalau ia tidak mau membayar maka
pengadilan akan memasukkannya ke dalam penjara.
Jadi pemuda itu terpaksa membayar 3 keping perak kepada pemilik
restoran. Si pemilik restoran merasa
senang sekali dan cepat-cepat mau mengambil uang itu. Tetapi sebelum ia mengambil uang itu, hakim
meminta uang itu dan melemparkannya ke lantai.
Kemudian hakim bertanya, “Apakah engkau mendengar suara keping perak
itu?” Si pemilik mengiakan. “Kalan
begitu impaslah sudah. Si pemuda mencium
bau masakanmu dan ia sudah membayarnya dengan bunyi uangnya,” kata hakim
itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar