Jumat, 29 Agustus 2014
5 SIMBOL MERPATI
1. Merpati adalah burung yang tidak
pernah mendua hati. coba perhatikan, apakah ada burung merpati yang suka
ganti2 pasangan? jawabannya adalah tidak ! pasangannya cukup 1 untuk seumur
hidupnya.
2. Merpati adalah burung yang tahu kemana dia harus pulang. bertapapun burung merpati terbang jauh, dia tidak pernah tersesat untuk pulang. pernahkah ada burung merpati yang pulang ke rumah lain? jawabannya adalah tidak!. sebab dirumahnya pasangannya telah menanti.
2. Merpati adalah burung yang tahu kemana dia harus pulang. bertapapun burung merpati terbang jauh, dia tidak pernah tersesat untuk pulang. pernahkah ada burung merpati yang pulang ke rumah lain? jawabannya adalah tidak!. sebab dirumahnya pasangannya telah menanti.
3. Merpati adalah burung yang
romantis. coba perhatikan ketika sang jantan bertalu-talu memberikan pujian,
sementara sang betina tertunduk malu. pernahkah kita melihat mereka saling
mencaci? jawabannya adalah tidak !
4. Burung merpati tahu bagaimana
pentingnya bekerja sama. Coba perhatikan ketika mereka bekerja sama membuat
sarang? sang jantan dan betina saling silih berganti membawa ranting untuk
sarang anak2 mereka. apabila sang betina mengerami, sang jantan berjaga di luar
kandang dan apabila sang betina kelelahan, sang jantan ganti mengerami.
Pernahkah kita melihat mereka saling melempar pekerjaan? jawabannya tidak !
5. Merpati adalah burung yang tidak
mempunyai empedu, ia tidak menyimpan kepahitan sehingga tidak pernah menyimpan
dendam.
sudahkah kita setia pada pasangan
kita?
sudahkah kita menghargai dirinya?
sudahkah kita memaafkan untuk setiap kesalahan kesalahannya?
sudahkah kita menghargai dirinya?
sudahkah kita memaafkan untuk setiap kesalahan kesalahannya?
Jika seekor burung merpati bisa
melakukannya.. mengapa manusia tidak bisa?
hidup itu indah jika kita mau saling
mengerti.. berbagi.. dan menghargai..
Kamis, 28 Agustus 2014
KERJA KERAS
Di Amerika ada seorang pemuda yang
bernama Herry. Pemuda ini bercita-cita ingin sukses dengan mencari uang yang
banyak. Setelah mendapat banyak uang, ia ingin mejelajahi dan menikmati dunia
ini. Oleh sebab itu sejak kecil ia berlatih olah raga supaya tubuhnya sehat dan
setelah sehat ia dapat bekerja dengan baik. karena latihan olah raga terus
menerus dan tidak mengenal lelah, akhirnya ia terjatuh dan kaki kirinya patah.
Ia pun meyesal sekali. Tapi ia tetap gigih bekerja walaupun kakinya yang satu
sudah patah. Namun setahun kemudian ia jatuh untuk kedua kalinya dan kali ini
tangan kanannya yang patah. Dan ia berpikir tidak ada harapan lagi. Herry
banyak tinggal ditempat tidurnya sebagai orang yang cacat. Tetapi justru dalam
keadaan demikian ia lebih banyak membaca dan menulis tentang segala kesulitan
hidup manusia. Akhirnya ia menjadi seorang penulis yang terkenal dengan
penghasilan yang besar dan ia mejadi seorang yang cukup kaya. Denga uang itu ia
memperbaiki tubuhnya dan ia dapat berkeliling dunia.
Ternyata melalui suatu permasalahan
ternyata Allah menjawab setiap keinginan kita…. ternyata dari setia persoalan
Allah tidak meninggalkan umatnya… Asalkan umatnya tetap setia, tetap sabar
dalam menjalani kesulitan hidup… karena ternyata dibalik batu yang hitam
ternyata ada sebongkah berlian….. dibalik persoalan ada berkat Tuhan.
KASIH DALAM TINDAKAN NYATA
Ada sebuah cerita yang ditulis oleh
dr. Yang Jwing-Ming. Seorang perempuan, Li-Li, menikah dan tinggal bersama
suami dan ibu mertuanya. Li-Li sering berlawanan dalam berbagai hal dengan ibu
mertuanya. Mereka memiliki dua kepribadian yang berbeda.
Hari dan minggu berlalu. Li-Li dan
ibu mertuanya selalu bertengkar. Yang membuat situasi semakin sulit adalah,
bahwa dalam tradisi Cina, Li-Li harus tnduk kepada ibu mertuanya. Akhirnya,
Li-Li tidak tahan lagi. Dia harus melakukan sesuatu untuk menyelesaikan
masalah ini.
Li-Li pergi ke seorang teman baik
dari ayahnya, Bapak Huang, yang menjual ramuan tradisional. Dia bercerita
mengenai situasinya dan meminta ramuan racun, supaya dia bisa memecahkan
masalahnya.
Tuan Huang berkata, “Li-Li, saya
akan membantumu, tetapi kamu harus mendengar apa kata saya dan melakukan apa
yang saya bilang.” Tuan Huang pergi ke kamar belakang dan kembali dengan sebuah
paket berisi ramuan. Dia berkata kepada Li-Li, “Kamu tidak boleh menggunakan
racun yang bekerja dengan cepat, karena nanti orang akan curiga. Karena itu
saya memberikan beberapa ramuan racun yang bekerja dengan lambat untuk ibu
mertuamu. Kamu harus memasak makanan daging babi dan ayam yang enak, lalu
memasukkan sedikit dari ramuan ini. Untuk menghilangkan kecurigaan kalau dia
meninggal, kamu harus berhati-hati dalam tindakanmu. Kamu harus baik terhadap
ibu mertuamu, jangan bertengkar lagi, dengarkan keinginannya, dan perlakukan
dia seperti ratu.”
Minggu dan bulan berlalu. Lu-Li
melakukan persis apa yang Tuan Huang katakan. Dia mempersiapkan makanan enak
dan memperlakukan ibu mertuanya seperti ratu. Setelah 6 bulan segalanya
berubah. Li-Li memperlakukan ibu mertuanya dengan hormat dan juga humor.
Ibu mertuanya menceritakan bahwa Li-Li adalah menantu terbaik kepada
teman-teman dan anggota keluarga lain. Li-Li dan ibu mertua sekarang bisa hidup
berdampingan dengan baik.
Pada suatu hari, Li-Li kembali minta
tolong ke dr Huang. Dia berkata, “Dr. Huang, bisakah anda memberi anti-racun
supaya ibu mertua saya tidak meninggal. Dia telah berubah menjadi perempuan
yang menyenangkan, dan saya mengasihinya seperti ibu saya sendiri. Saya tidak
mau dia meninggal dunia karena racun yang saya berikan kepadanya.”
Dr. Huang tersenyum dan berkata,
“Li-Li, jangan khawtair. Saya tidak pernah memberikan racun kepadamu. Saya memberi
ramuan untuk kesehatan ibu mertuamu. Satu-satunya racun ada di dalam jiwamu dan
perlakuanmu terhadapnya, tapi itu telah dihapus melalui kasih yang engkau
berikan kepadanya.”
Selasa, 26 Agustus 2014
YEREMIA 4 :19-31
Rabu, 27 Agustus 2014
Judul: Aduh, dadaku!
Sebagai bagian dari masyarakatnya, Yeremia dipanggil untuk meneruskan pesan Tuhan bagi bangsanya. Namun, bencana yang disingkapkan kepadanya begitu memilukan hatinya sampai-sampai ia berseru, "Aduh, dadaku, dadaku!" (19). Sementara bagian terbesar bangsanya hidup seolah tanpa masalah, nabi diberi ketajaman untuk melihat panji perang (21) dan mendengar bunyi sangkakala dan deru pasukan yang bertempur (21, 29). Betapa mengerikan! Semua ini bakal terjadi karena kebodohan umat Tuhan: "anak-anak tolol" yang pintar berbuat jahat (22)!
Bencana yang bakal menelan korban itu kerap digambarkan dalam pemberitaan para nabi lainnya, apa yang terjadi dalam dunia manusia disandingkan pula dengan kejadian-kejadian dahsyat di tata alam. Yeremia menggunakan istilah tohuwabohu, istilah yang persis sama untuk melukiskan bumi yang "belum berbentuk dan kosong" pada waktu penciptaan (23; bdk. Kej 1:2). Bumi yang kacau balau dan tak berpenghuni dibandingkan dengan keadaan porak-poranda akibat perang (25).Gambaran mengenai gunung terguncang, langit menggelap, dan kejadian alam yang serba kacau terkait datangnya hari Tuhan, adalah hari penghukuman yang sangat menggentarkan manusia Ibrani kuno (bdk. Yes 13:7-9; Yeh 30:1-4). Luar biasanya, di antara kekacauan perang yang berkecamuk, bangsa yang terancam itu masih sempat berdandan bagai perempuan sundal untuk menawan pihak musuh (30). Namun, kali ini ia merintih kesakitan, binasa di tangan musuhnya (31).
Betapa ironis! Umat yang menolak cinta sejati Tuhannya akhirnya ditolak para pencintanya! Kehancuran bangsa yang menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan Tuhan menjadi peringatan bagi kita. Sebagai umat yang ditempatkan Tuhan di negeri ini, kita wajib prihatin bila kekacauan dan kejahatan menandai hidup sehari-hari, dengan menumbuhkembangkan kecerdasan spiritual bangsa berdasarkan firman Tuhan. Jika tidak, akan semakin banyak orang yang pintar untuk berbuat jahat dan bodoh untuk berbuat baik (22). Aduh!
Judul: Aduh, dadaku!
Sebagai bagian dari masyarakatnya, Yeremia dipanggil untuk meneruskan pesan Tuhan bagi bangsanya. Namun, bencana yang disingkapkan kepadanya begitu memilukan hatinya sampai-sampai ia berseru, "Aduh, dadaku, dadaku!" (19). Sementara bagian terbesar bangsanya hidup seolah tanpa masalah, nabi diberi ketajaman untuk melihat panji perang (21) dan mendengar bunyi sangkakala dan deru pasukan yang bertempur (21, 29). Betapa mengerikan! Semua ini bakal terjadi karena kebodohan umat Tuhan: "anak-anak tolol" yang pintar berbuat jahat (22)!
Bencana yang bakal menelan korban itu kerap digambarkan dalam pemberitaan para nabi lainnya, apa yang terjadi dalam dunia manusia disandingkan pula dengan kejadian-kejadian dahsyat di tata alam. Yeremia menggunakan istilah tohuwabohu, istilah yang persis sama untuk melukiskan bumi yang "belum berbentuk dan kosong" pada waktu penciptaan (23; bdk. Kej 1:2). Bumi yang kacau balau dan tak berpenghuni dibandingkan dengan keadaan porak-poranda akibat perang (25).Gambaran mengenai gunung terguncang, langit menggelap, dan kejadian alam yang serba kacau terkait datangnya hari Tuhan, adalah hari penghukuman yang sangat menggentarkan manusia Ibrani kuno (bdk. Yes 13:7-9; Yeh 30:1-4). Luar biasanya, di antara kekacauan perang yang berkecamuk, bangsa yang terancam itu masih sempat berdandan bagai perempuan sundal untuk menawan pihak musuh (30). Namun, kali ini ia merintih kesakitan, binasa di tangan musuhnya (31).
Betapa ironis! Umat yang menolak cinta sejati Tuhannya akhirnya ditolak para pencintanya! Kehancuran bangsa yang menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan Tuhan menjadi peringatan bagi kita. Sebagai umat yang ditempatkan Tuhan di negeri ini, kita wajib prihatin bila kekacauan dan kejahatan menandai hidup sehari-hari, dengan menumbuhkembangkan kecerdasan spiritual bangsa berdasarkan firman Tuhan. Jika tidak, akan semakin banyak orang yang pintar untuk berbuat jahat dan bodoh untuk berbuat baik (22). Aduh!
ORANG ESKIMO
Orang-orang Eskimo di kutub utara mempunyai suatu
cara yang unik dalam berburu serigala. Mereka mencelupkan mata pisau ke dalam
darah dan dibiarkan membeku.
Kemudian
pisau tersebut ditaruh di atas salju di tempat yang tinggi dengan bagian yang
tajam menghadap ke atas. Di tempat yang tinggi tersebut biasanya pergerakan
udara mengalun kesana-kemari. Aroma darah ini tercium oleh hewan buas pemakan
daging, salah satunya dalah srigala.
Ketika serigala datang, ia segera menjilati pisau
yang berlumuran darah tersebut. Udara dingin membuat lidah serigala kebas
atau mati rasa. Tanpa disadarinya lidahnya terluka oleh mata pisau dan
berdarah. Tetapi, ia tidak tahu bahwa itu darahnya sendiri yang sedang ia
jilati terus.
Srigala tidak merasa puas sehingga ia terus
menjilati pisau yang berlumuran darahnya sendiri hingga akhirnya menjadi lemas
dan mati karena kehabisan darah.
PEMILIK RESTORAN DAN SEORANG PEMUDA
Ada
sebuah dongeng kuno dari Jepang, yang ceritanya begini: dulu ada seorang kikir
yang memiliki sebuah restoran. Biasa di Jepang rumah-rumah terdiri dari
ruangan atas dan ruangan bawah. Ruangan atas dipakai untuk tidur, sedang
ruangan bawah dipakai untuk kegiatan sehari-hari lainnya. Jadi restoran
itu juga letaknya di bawah, sedang ruangan atas disewakan kepada pemuda-pemuda
yang sedang belajar.
Ada
seorang pemuda yang menyewa kamar persis di atas dapur restoran itu. Pemuda ini
setiap kali hanya makan nasi putih saja.
Pemilik restoran itu melihat hal ini dan bertanya kepada si pemuda
kenapa ia hanya makan nasi putih saja. “Karena setiap kali koki anda memasak,
saya mulai mencium baunya yang sedap, sehingga saya dapat makan cukup dengan
nasi putih saja,” jawab pemuda itu.
“Kalau begitu anda harus membayar kepada saya karena anda mencium bau
masakan saya yang sedap,” desak pemilik restoran itu. Si pemuda membantah, “Kan saya tidak
memakannya, Pak. Kenapa saya harus
membayar?” Pemilik restoran dan pemuda
itu masing-masing mempertahankan pendapatnya sampai akhirnya mereka sepakat
untuk menyerahkan masalah mereka ke pengadilan.
Pengadilan memutuskan bahwa pemuda ini wajib membayar 3 keping uang
perak kepada pemilik restoran. Pemuda
ini memberontak karena merasa keputusan hakim itu tidak adil. Tetapi kalau ia tidak mau membayar maka
pengadilan akan memasukkannya ke dalam penjara.
Jadi pemuda itu terpaksa membayar 3 keping perak kepada pemilik
restoran. Si pemilik restoran merasa
senang sekali dan cepat-cepat mau mengambil uang itu. Tetapi sebelum ia mengambil uang itu, hakim
meminta uang itu dan melemparkannya ke lantai.
Kemudian hakim bertanya, “Apakah engkau mendengar suara keping perak
itu?” Si pemilik mengiakan. “Kalan
begitu impaslah sudah. Si pemuda mencium
bau masakanmu dan ia sudah membayarnya dengan bunyi uangnya,” kata hakim
itu.
Langganan:
Komentar (Atom)
